Setiap hari aku
merasa bahwa kehidupanku adalah kehidupan yang kedua, ketiga, atau keempat.
Rasanya ada seuatu yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya dan akan terjadi
kembali saat ini. Tapi aku tidak tahu apakah yang ada dalam benakku saja atau
memang pernah terjadi.
Namaku Eunha. Kehidupanku seperti
anak SMA lainnya. Pergi ke sekolah pagi dan pulang ke rumah sore. Sesampai di
rumah, aku langsung tidur karena terasa begitu lelah pada hari ini. Aku bermimpi
bahwa ada tangki minyak tanah menabrak beberapa orang. Aku sangat kaget
mengalami mimpi buruk tadi. Lelahku membuat aku terlelap tidur kembali.
Pagi hari pun tiba. Mentari pagi
yang cerah ini membangunkan aku yang tertidur lelap. Kubuka mataku dan langsung
melihat jam. Aku kaget bukan kepalang saat melihat jam yang bertengger di meja
itu. Jam tersebut menunjukkan sudah jam 6.27. aku pun bergegas cuci muka, ganti
baju dan menggenakan sepatu.
“Eunha sayang, lain kali kalau sudah
dibangunkan itu bangun!” kata ibuku sambil memberikan bekal yang telah dia
siapkan untukku. “Mianhaeyo, eomma. Aku pamit pergi ya ma!” jawabku sambil
menyeringai dan aku pun dengan tergesa – gesa langsung pergi meninggalkan rumah
karena aku takut akan terlambat.
Untunglah jarak rumah ke sekolah
bisa ditempuh selama 8 menit saja. Aku sudah tinggal menyebrang untuk sampai
kesana namun kejadian tak terduga menimpa diriku. Pada awalnya jalan saat aku
akan menyebrang tidak terlalu ramai.
Akan tetapi setibanya aku di tengah jalan, tiba – tiba sebuah tangki minyak
tanah melaju dengan kencang. Tangki itu menabrak aku dan beberapa orang
lainnya. Akhirnya tangki itu terbanting, terbalik dan meledak. Kurasa inilah
akhir hidupku sebagai manusia di bumi ini. Mungkinkah kejadian ini menandakan
bahwa aku menerima hukuman dari kehidupan sebelumnya? Mungkinkah kejadian ini
adalah kenyataan dari mimpiku semalam? Apakah ini mimpi? Tak ku sangka hari ini
adalah hari terakhir kehidupanku.
-7 tahun kemudian- Namaku Inna. Aku
menjalani kehidupanku layaknya manusia lainnya. Pekerjaanku menjadi reporter
stasiun televisi SBC.
Namun aku bingung dengan keluargaku yang sekarang. Aku merasa bahwa keluargaku
sebenarnya bukanlah keluarga yang bersamaku sekarang. Aku juga merasa bahwa
pernah menjalani kehidupan sebelumnya. ‘Ah mana mungkin aku memiliki keluarga lain
dan memiliki kehidupan sebelumnya.’ Itulah yang kupikirkan hingga saat ini,
tetapi aku melihat ada orang yang mirip denganku saat di warung bakso Pak Joni.
Ingin ku bertanya, Siapakah kau?
Apa aku memiliki ikatan saudara denganmu? Apakah kau mengenaliku? Namun aku
hanya bisa menatap orang itu hingga dia pergi dari warung. Mulutku tidak bisa
mengeluarkan suara saat itu. Rasanya saat itu terkena sihir untuk diam seperti
patung. Kuharap suatu saat aku bisa bertemu dengan orang itu dan bertanya –
tanya kepadanya walau hingga kini pikiranku masih terbayang – bayang wajahnya
yang mirip denganku.
Ponselku berdering memecahkan
lamunanku tadi. Aku langsung mengangkat telpon dari Jung PD yang merupakan pimpinan tim berita SBC.
"Inna-ssi, jangan lupa kau berada di shift sore hari ini!"Aku yang mendapatkan jadwal kerja disore hari ini langsung
menuju gedung siaran berita langsung. Kembali aku menjalani pekerjaan sebagai
reporter berita. Setelah siaran berita, aku harus menjadi reporter acara
bincang – bincang malam di stasiun televisi itu juga. Betapa sibuknya aku
menjalani hidupku ini. Ingin ku istirahat seminggu saja dalam hidupku. Setelah
semua pekerjaan yang aku lakukan selesai, aku bergegas pulang dan istirahat.
Aku lupa tentang wajah yang mirip denganku saat itu.
Selagi dalam bus menuju tempat
tinggalku, aku memikirkan kembali rupa orang wajah itu. Tanpa sadar aku
memikirkan tampang dari orang itu juga. Tampangnya orang itu lebih tua belasan
tahun denganku atau lebih dari belasan tahun. Mungkin lebih mirip seorang kakak
atau ibu atau nenek dengan aku sebagai perbandingannya. Tingginya mungkin
setinggi diriku yang artinya tidak lebih pendek dan tidak lebih tinggi. Setelah
kupikir – pikir sepertinya dia merupakan orang yang sederhana. Atau mungkin
kaya tapi menggunakan pakaian yang sederhana? Pertanyaan baru muncul begitu
saja dibenakku ini.
Tanpa sadar bus sudah sampai di pemberhentian
Podomoro. Ya, saat ini aku masih tinggal di apartemen dengan keluargaku.
Hidupku tidak pernah kekurangan hingga saat ini. Aku langsung pulang menuju
apartemenku. Setibanya aku di apartemen, aku langsung disambut hangat oleh
keluarga kesayanganku ini. Baik ayah, ibu, dan juga kak Hani selalu menyambutku
saat sampai di apartemen. Secara tiba – tiba aku terpikir orang itu kembali dan
langsung bertanya kepada keluargaku.
“Yah, bu, kak apakah kita punya
saudara yang tinggal di Jakarta juga?” tanyaku kepada mereka. Mereka pun heran
mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibirku ini. “Memangnya ada apa, na?
Kan kamu juga tahu bahwa saudara kita ada di Surabaya semua.” Jawab kak Hani.
Aku semakin bingung pada orang yang kutemui tadi. Karena jawaban dari kak Hani
tadi membuatku berpikir bahwa orang yang kutemui hanya mirip saja denganku jadi
aku tidak memikirkannya lagi.
Aku semakin penasaran setelah
beberapa hari dari saat aku bertemu dengan orang yang mirip denganku. Karena
aku ingat bahwa pernah menjalani beberapa operasi di wajah seperti mengubah
rahang, mengganti kulit yang terkena luka bakar, dll. Seketika itu aku kaget,
tanpa sadar aku pernah mengalami hal yang berhubungan dengan kebakaran.
Secepatnya aku mencari berkas –
berkas tentang kebakaran di kantor. Tak sulit untuk mencari berkas berita
tentang kebakaran namun hal tersulit disini adalah mencari data yang
berhubungan tentang diriku. Banyak berkas yang kulihat dari tahun – ketahun.
Sampai pada berkas tujuh tahun yang lalu aku menemukan namaku tercantum sebagai
korban meledaknya tangki minyak tanah karena terbanting setelah menabrak
bangunan. Aku sangat kaget ketika mengetahui akan hal tersebut. Kubawa berkas
tersebut dan meminta izin pulang kepada produser dan penanggung jawab tim.
Sampailah aku di apartemen, disana
ada ibu yang sedang membersihkan apartemen. Tanpa menyapa ibu, aku langsung
bertanya kepadanya apakah aku pernah mengalami kecelakaan. Ibu langsung kaget
dan menanyakan bagaimana aku mengetahui hal tersebut. Langsung kuberikan berkas
berita meledaknya tangki minyak tujuh tahun yang lalu. Berlinanglah air mata
ibu saat melihat berkas itu. Akhirnya ibu menceritakan apa yang terjadi saat
kecelakaan itu kepadaku.
Saat itu ada sebuah tangki minyak
dengan keadaan rem yang blong melaju dengan kecang. Disaat itu juga ada anak
yang menyebrang. Karena rem yang blong tersebut, anak itu tertabrak dan
terpental. Disisi lain sang supir membantingkan stirnya ke seberang sekolah.
Naasnya ada beberapa orang yang berjalan di sekitar situ. Orang – orang yang
berada disitu tertabrak dan tangkinya terbalik. Meledaklah tangki tersebut dan
memakan beberapa korban jiwa serta korban luka.
Keluargaku yang sekarang ternyata
tidak terima bahwa Inna mati dalam kecelakaan tersebut. Karena keinginan
keluarganya ingin tetap hidup, akhirnya dia meminta keluarga Eunha agar Eunha menjadi Inna. Keluarga Eunha juga keluarga lamaku dibiayai hidupnya dengan
syarat Eunha yang menjadi korban luka dan amnesia karena kecelakaan tersebut
menjadi Inna. Karena keterbatasan ekonomi juga untuk lebih memperbaiki
kehidupannya, akhirnya ibunya Eunha merelakan anak sulungnya asalkan Eunha dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang lebih dari keluarga lamanya.
Mengetahui hal tersebut, aku
sesegera mungkin mencari tahu keluarga lamaku dan ingin menemuinya. Aku mencari
alamat rumah lamaku ke sekolahku saat aku sebagai Eunha. Akhirnya aku menemukan
rumahnya. Dengan perasaan yang bercampur aduk akhirnya ku ketuk pintu rumah
tersebut. Betapa kaget, senang dan sedih ketika melihat ibuku. Orang yang mirip
dengan diriku itu ternyata ibuku yang sesungguhnya. Disana juga kutemui kedua saudaraku.
Walau ayahku yang sesungguhnya belum pulang, aku sudah senang melihat mereka.
Begitu mendengar semua ceritaku,
ibuku yang sesungguhnya sedih dan kecewa karena hanya bisa menitipkan diriku
pada orang lain. Namun ibuku sebenarnya ingin aku memiliki kehidupan yang lebih
baik dari keluarga lamaku, lebih nyaman dari rumah lamaku, lebih senang dengan
keluarga baruku. Aku terharu sekaligus sedih mendengar perkataan itu dari
ibuku. Ternyata ibuku yang sesungguhnya menginginkan aku yang lebih bahagia
dengan rela mengorbankan anaknya dirawat oleh orang lain. Walaupun dia
mengetahui resiko tidak bertemu bahkan mengingat kembali ibu kandungnya itu
lebih besar, dia tetap rela melakukan itu agar kehidupan anaknya lebih baik.
Apapun keadaanya setelah aku
mengetahui hal yang sebenarnya, aku akan tetap menyayangi kedua keluargaku.
Baik keluarga yang lama maupun keluarga yang baru, aku sayang kepada mereka
semua. Membagi waktuku dengan dua keluarga bukanlah hal yang mudah dilakukan.
Tetapi aku akan mencoba untuk membagi waktuku agar tetap bisa bersama dengan
kedua keluargaku. Aku juga akan membagi gajiku untuk membantu membiayai
kehidupan kedua adikku, Jinhee dan Jungkook. Juga membagi gajiku sebagai tulang
punggung keluarga lamaku.
Story by: Felicia F maggiechw
DILARANG COPY PASTE TANPA IZIN ATAU MENYERTAKAN SUMBER!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar