Jumat, 03 Februari 2017

Ingatan

Setiap hari aku merasa bahwa kehidupanku adalah kehidupan yang kedua, ketiga, atau keempat. Rasanya ada seuatu yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya dan akan terjadi kembali saat ini. Tapi aku tidak tahu apakah yang ada dalam benakku saja atau memang pernah terjadi.

Namaku Eunha. Kehidupanku seperti anak SMA lainnya. Pergi ke sekolah pagi dan pulang ke rumah sore. Sesampai di rumah, aku langsung tidur karena terasa begitu lelah pada hari ini. Aku bermimpi bahwa ada tangki minyak tanah menabrak beberapa orang. Aku sangat kaget mengalami mimpi buruk tadi. Lelahku membuat aku terlelap tidur kembali.
Pagi hari pun tiba. Mentari pagi yang cerah ini membangunkan aku yang tertidur lelap. Kubuka mataku dan langsung melihat jam. Aku kaget bukan kepalang saat melihat jam yang bertengger di meja itu. Jam tersebut menunjukkan sudah jam 6.27. aku pun bergegas cuci muka, ganti baju dan menggenakan sepatu.
“Eunha sayang, lain kali kalau sudah dibangunkan itu bangun!” kata ibuku sambil memberikan bekal yang telah dia siapkan untukku. “Mianhaeyo, eomma. Aku pamit pergi ya ma!” jawabku sambil menyeringai dan aku pun dengan tergesa – gesa langsung pergi meninggalkan rumah karena aku takut akan terlambat.
Untunglah jarak rumah ke sekolah bisa ditempuh selama 8 menit saja. Aku sudah tinggal menyebrang untuk sampai kesana namun kejadian tak terduga menimpa diriku. Pada awalnya jalan saat aku akan menyebrang tidak terlalu  ramai. Akan tetapi setibanya aku di tengah jalan, tiba – tiba sebuah tangki minyak tanah melaju dengan kencang. Tangki itu menabrak aku dan beberapa orang lainnya. Akhirnya tangki itu terbanting, terbalik dan meledak. Kurasa inilah akhir hidupku sebagai manusia di bumi ini. Mungkinkah kejadian ini menandakan bahwa aku menerima hukuman dari kehidupan sebelumnya? Mungkinkah kejadian ini adalah kenyataan dari mimpiku semalam? Apakah ini mimpi? Tak ku sangka hari ini adalah hari terakhir kehidupanku.
-7 tahun kemudian- Namaku Inna. Aku menjalani kehidupanku layaknya manusia lainnya. Pekerjaanku menjadi reporter stasiun televisi SBC. Namun aku bingung dengan keluargaku yang sekarang. Aku merasa bahwa keluargaku sebenarnya bukanlah keluarga yang bersamaku sekarang. Aku juga merasa bahwa pernah menjalani kehidupan sebelumnya.  ‘Ah mana mungkin aku memiliki keluarga lain dan memiliki kehidupan sebelumnya.’ Itulah yang kupikirkan hingga saat ini, tetapi aku melihat ada orang yang mirip denganku saat di warung bakso Pak Joni.
Ingin ku bertanya, Siapakah kau? Apa aku memiliki ikatan saudara denganmu? Apakah kau mengenaliku? Namun aku hanya bisa menatap orang itu hingga dia pergi dari warung. Mulutku tidak bisa mengeluarkan suara saat itu. Rasanya saat itu terkena sihir untuk diam seperti patung. Kuharap suatu saat aku bisa bertemu dengan orang itu dan bertanya – tanya kepadanya walau hingga kini pikiranku masih terbayang – bayang wajahnya yang mirip denganku.
Ponselku berdering memecahkan lamunanku tadi. Aku langsung mengangkat telpon dari Jung PD yang merupakan pimpinan tim berita SBC.
"Inna-ssi, jangan lupa kau berada di shift sore hari ini!"Aku yang mendapatkan jadwal kerja disore hari ini langsung menuju gedung siaran berita langsung. Kembali aku menjalani pekerjaan sebagai reporter berita. Setelah siaran berita, aku harus menjadi reporter acara bincang – bincang malam di stasiun televisi itu juga. Betapa sibuknya aku menjalani hidupku ini. Ingin ku istirahat seminggu saja dalam hidupku. Setelah semua pekerjaan yang aku lakukan selesai, aku bergegas pulang dan istirahat. Aku lupa tentang wajah yang mirip denganku saat itu.
Selagi dalam bus menuju tempat tinggalku, aku memikirkan kembali rupa orang wajah itu. Tanpa sadar aku memikirkan tampang dari orang itu juga. Tampangnya orang itu lebih tua belasan tahun denganku atau lebih dari belasan tahun. Mungkin lebih mirip seorang kakak atau ibu atau nenek dengan aku sebagai perbandingannya. Tingginya mungkin setinggi diriku yang artinya tidak lebih pendek dan tidak lebih tinggi. Setelah kupikir – pikir sepertinya dia merupakan orang yang sederhana. Atau mungkin kaya tapi menggunakan pakaian yang sederhana? Pertanyaan baru muncul begitu saja dibenakku ini.
Tanpa sadar bus sudah sampai di pemberhentian Podomoro. Ya, saat ini aku masih tinggal di apartemen dengan keluargaku. Hidupku tidak pernah kekurangan hingga saat ini. Aku langsung pulang menuju apartemenku. Setibanya aku di apartemen, aku langsung disambut hangat oleh keluarga kesayanganku ini. Baik ayah, ibu, dan juga kak Hani selalu menyambutku saat sampai di apartemen. Secara tiba – tiba aku terpikir orang itu kembali dan langsung bertanya kepada keluargaku.
“Yah, bu, kak apakah kita punya saudara yang tinggal di Jakarta juga?” tanyaku kepada mereka. Mereka pun heran mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibirku ini. “Memangnya ada apa, na? Kan kamu juga tahu bahwa saudara kita ada di Surabaya semua.” Jawab kak Hani. Aku semakin bingung pada orang yang kutemui tadi. Karena jawaban dari kak Hani tadi membuatku berpikir bahwa orang yang kutemui hanya mirip saja denganku jadi aku tidak memikirkannya lagi.
Aku semakin penasaran setelah beberapa hari dari saat aku bertemu dengan orang yang mirip denganku. Karena aku ingat bahwa pernah menjalani beberapa operasi di wajah seperti mengubah rahang, mengganti kulit yang terkena luka bakar, dll. Seketika itu aku kaget, tanpa sadar aku pernah mengalami hal yang berhubungan dengan kebakaran.
Secepatnya aku mencari berkas – berkas tentang kebakaran di kantor. Tak sulit untuk mencari berkas berita tentang kebakaran namun hal tersulit disini adalah mencari data yang berhubungan tentang diriku. Banyak berkas yang kulihat dari tahun – ketahun. Sampai pada berkas tujuh tahun yang lalu aku menemukan namaku tercantum sebagai korban meledaknya tangki minyak tanah karena terbanting setelah menabrak bangunan. Aku sangat kaget ketika mengetahui akan hal tersebut. Kubawa berkas tersebut dan meminta izin pulang kepada produser dan penanggung jawab tim.
Sampailah aku di apartemen, disana ada ibu yang sedang membersihkan apartemen. Tanpa menyapa ibu, aku langsung bertanya kepadanya apakah aku pernah mengalami kecelakaan. Ibu langsung kaget dan menanyakan bagaimana aku mengetahui hal tersebut. Langsung kuberikan berkas berita meledaknya tangki minyak tujuh tahun yang lalu. Berlinanglah air mata ibu saat melihat berkas itu. Akhirnya ibu menceritakan apa yang terjadi saat kecelakaan itu kepadaku.
Saat itu ada sebuah tangki minyak dengan keadaan rem yang blong melaju dengan kecang. Disaat itu juga ada anak yang menyebrang. Karena rem yang blong tersebut, anak itu tertabrak dan terpental. Disisi lain sang supir membantingkan stirnya ke seberang sekolah. Naasnya ada beberapa orang yang berjalan di sekitar situ. Orang – orang yang berada disitu tertabrak dan tangkinya terbalik. Meledaklah tangki tersebut dan memakan beberapa korban jiwa serta korban luka.
Keluargaku yang sekarang ternyata tidak terima bahwa Inna mati dalam kecelakaan tersebut. Karena keinginan keluarganya ingin tetap hidup, akhirnya dia meminta keluarga Eunha agar Eunha menjadi Inna. Keluarga Eunha juga keluarga lamaku dibiayai hidupnya dengan syarat Eunha yang menjadi korban luka dan amnesia karena kecelakaan tersebut menjadi Inna. Karena keterbatasan ekonomi juga untuk lebih memperbaiki kehidupannya, akhirnya ibunya Eunha merelakan anak sulungnya asalkan Eunha dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang lebih dari keluarga lamanya.
Mengetahui hal tersebut, aku sesegera mungkin mencari tahu keluarga lamaku dan ingin menemuinya. Aku mencari alamat rumah lamaku ke sekolahku saat aku sebagai Eunha. Akhirnya aku menemukan rumahnya. Dengan perasaan yang bercampur aduk akhirnya ku ketuk pintu rumah tersebut. Betapa kaget, senang dan sedih ketika melihat ibuku. Orang yang mirip dengan diriku itu ternyata ibuku yang sesungguhnya. Disana juga kutemui kedua saudaraku. Walau ayahku yang sesungguhnya belum pulang, aku sudah senang melihat mereka.
Begitu mendengar semua ceritaku, ibuku yang sesungguhnya sedih dan kecewa karena hanya bisa menitipkan diriku pada orang lain. Namun ibuku sebenarnya ingin aku memiliki kehidupan yang lebih baik dari keluarga lamaku, lebih nyaman dari rumah lamaku, lebih senang dengan keluarga baruku. Aku terharu sekaligus sedih mendengar perkataan itu dari ibuku. Ternyata ibuku yang sesungguhnya menginginkan aku yang lebih bahagia dengan rela mengorbankan anaknya dirawat oleh orang lain. Walaupun dia mengetahui resiko tidak bertemu bahkan mengingat kembali ibu kandungnya itu lebih besar, dia tetap rela melakukan itu agar kehidupan anaknya lebih baik.

Apapun keadaanya setelah aku mengetahui hal yang sebenarnya, aku akan tetap menyayangi kedua keluargaku. Baik keluarga yang lama maupun keluarga yang baru, aku sayang kepada mereka semua. Membagi waktuku dengan dua keluarga bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi aku akan mencoba untuk membagi waktuku agar tetap bisa bersama dengan kedua keluargaku. Aku juga akan membagi gajiku untuk membantu membiayai kehidupan kedua adikku, Jinhee dan Jungkook. Juga membagi gajiku sebagai tulang punggung keluarga lamaku.
Story by: Felicia F maggiechw
DILARANG COPY PASTE TANPA IZIN ATAU MENYERTAKAN SUMBER!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar